ZIARAH DAN KUCING

Makam Walisongo, Gkucingus Dur, dan Mbah Kholil Bangkalan Madura, adalah di antara yang menjadi tujuan para peziarah. Tentu bagi yang meyakini kalau ziarah kubur itu kebajikan. Karena ada yang nganggap ziarah kubur itu musyrik, sebab menjadikan para wali sebagai wasilah atau hantaran dalam memohon kepada Allah.

Pak Kyai, kata kang Trontong, tak pernah mau berdebat tentang hukum berwasilah wali yang sudah wafat. Karena: “sekalipun dijelaskan, yang gak suka tetap gak suka. Dan sekalipun yang gak suka ziarah kubur menerangkan ndaqik-ndaqik, saya ya tetap ziarah kubur.” demikian halnya dengan masalah khilafiyah yang lain, Pak Kyai milih diam. Ya Alhamdulillah, di kampung, baik yang suka ziarah wali dan yang suka slametan, tetap guyup rukun dengan “penentangnya”. Dan mereka, para “penentang”, kalau diundang slametan ya datang, dan nasi brekatnya ya dimakan.

Tentang ziarah kubur, Pak Kyai pernah jelaskan, bahwa di antara yang terpenting dari datang ke kuburan ini adalah untuk mengingat mati. Agar sadar kalau kita bakalan mati seperti mereka. Lalu membuat persiapan mati. Karena kematian yang bisa datang setiap saat. Kalau tiba-tiba datang apakah kita telah siap ? Siap dengan sakitnya sakaratil maut, sakitnya alam kubur, panasnya makhsyar, ditimbang amalnya, dst dst. ?

Dan kalau niatnya hanya untuk mengingat mati, menurut Syaikh Nawawi Al-Bantaniy bisa dilakukan di kubur siapa saja, bahkan di kuburan orang-orang kafir. Lah kalau untuk mendoakan, tentu hanya di kuburan orang-orang Islam. Kalau ziarah para wali dan orang-orang solih, kecuali mendoakan dan untuk mengingat mati, juga tabarrukan. Ngalap berkah. Karena kesolihan mereka pastilah karena berkah yang melimpah dari Allah SWT. Dan para peziarah berharap “krebelan” berkah mereka.

Ziarah yang mesti harus dilakukan oleh siapa pun, adalah ke kubur orang tua. Sekalipun mendoakan orang tua bisa dari mana saja, tapi kalau tidak ziarah ke sana kok rasanya kebangetan. Terutama ibu, yang pernah mengejan kesakitan dan berdarah-darah untuk mengeluarkan anaknya. Mosok seperti kucing, dikubur lalu ditinggal prung.

dari tulisan KH. Ahmad Haidar Idris

shofa